Kamis, 01 Mei 2014

Monas (Monumen Nasional)



Lokasi                          Jakarta, Indonesia
Alamat                          Lapangan Merdeka
Mulai dibuat                  17 Agustus 1961
Selesai                          12 Juli 1975
Diresmikan                    12 Juli 1975
Tinggi                            132 meter
Desain dan konstruksi Arsitek Frederich Silaban, R.M. Soedarsono
Kontraktor utama       P.N. Adhi Karya (tiang fondasi)

Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 - 15.00 WIB. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.

Sejarah
Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Sukarno mulai memikirkan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad. Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Sukarno. Akan tetapi Sukarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang diajukan Silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk. Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. Sukarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu.Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.

Pembangunan
Sukarno menginspeksi pembangunan Monas. Foto ini dibuat sekitar tahun 1963-1964.
Pembangunan terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama, kurun 1961/1962 -1964/1965 dimulai dengan dimulainya secara resmi pembangunan pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan Sukarno secara seremonial menancapkan pasak beton pertama. Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan. Sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum sejarah nasional. Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada bulanMaret 1962. Dinding museum di dasar bangunan selesai pada bulan Oktober. Pembangunan obelisk kemudian dimulai dan akhirnya rampung pada bulanAgustus 1963. Pembangunan tahap kedua berlangsung pada kurun 1966hingga 1968 akibat terjadinya Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) dan upaya kudeta, tahap ini sempat tertunda. Tahap akhir berlangsung pada tahun1969-1976 dengan menambahkan diorama pada museum sejarah. Meskipun pembangunan telah rampung, masalah masih saja terjadi, antara lain kebocoran air yang menggenangi museum. Monumen secara resmi dibuka untuk umum dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto. Lokasi pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka. Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka,Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur Medan Merdeka dipenuhi pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan Tugu Monas dan melakukan berbagai aktivitas dalam taman.

Rancang Bangun Monumen
Rancang bangun Tugu Monas berdasarkan pada konsep pasangan universal yang abadi; Lingga dan Yoni. Tugu obeliskyang menjulang tinggi adalah lingga yang melambangkan laki-laki, elemen maskulin yang bersifat aktif dan positif, serta melambangkan siang hari. Sementara pelataran cawan landasan obelisk adalah Yoni yang melambangkan perempuan, elemen feminin yang pasif dan negatif, serta melambangkan malam hari. Lingga dan yoni merupakan lambang kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi sedari masa prasejarah Indonesia. Selain itu bentuk Tugu Monas juga dapat ditafsirkan sebagai sepasang "alu" dan "Lesung", alat penumbuk padi yang didapati dalam setiap rumah tangga petani tradisional Indonesia. Dengan demikian rancang bangun Monas penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Monumen terdiri atas 117,7 meter obelisk di atas landasan persegi setinggi The 17 meter, pelataran cawan. Monumen ini dilapisi dengan marmer Italia.
Kolam di Taman Medan Merdeka Utara berukuran 25 x 25 meter dirancang sebagai bagian dari sistem pendingin udara sekaligus mempercantik penampilan Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kudanya, terbuat dari perunggu seberat 8 ton. Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario Bross di Indonesia. Pintu masuk Monas terdapat di taman Medan Merdeka Utara dekat patung Pangeran Diponegoro. Pintu masuk melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung menuju tugu Monas. Loket tiket berada di ujung terowongan. Ketika pengunjung naik kembali ke permukaan tanah di sisi utara Monas, pengunjung dapat melanjutkan berkeliling melihat relief sejarah perjuangan Indonesia; masuk ke dalam museum sejarah nasional melalui pintu di sudut timur laut, atau langsung naik ke tengah menuju ruang kemerdekaan atau lift menuju pelataran puncak monumen.

Relief Sejarah Indonesia
Relief timbul sejarah Indonesia menampilkan Gajah Mada dan sejarahMajapahit
Pada halaman luar mengelilingi monumen, pada tiap sudutnya terdapat relief timbul yang menggambarkan sejarah Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan sejarah Singhasari dan Majapahit. Relief ini berlanjut secara kronologis searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut. Secara kronologis menggambarkan masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan patung-patung ini dibuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam, sayang sekali beberapa patung dan arca mulai rontok dan rusak akibat hujan dan cuaca tropis.

Museum Sejarah Nasional
Pelajar memperhatikan diorama sejarah Indonesia
Di bagian dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang. Ruangan besar berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51 diorama. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru. Diorama ini dimula dari sudut timur laut bergerak searah jarum jam menelusuri perjalanan sejarah Indonesia; mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, disusul masa penjajahan bangsa Eropa yang disusul perlawanan para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda. Diorama berlangsung terus hingga masa pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa Orde Baru pada masa pemerintahan Suharto.

Ruang Kemerdekaan
Di bagian dalam cawan monumen terdapat Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Ruangan ini dapat dicapai melalui tangga berputar di dari pintu sisi utara dan selatan. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, dan dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.[1][8]. Di dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional ini digunakan sebagai ruang tenang untuk mengheningkan cipta dan bermeditasi mengenang hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia. Naskah asli proklamasi kemerdekaan Indonesia disimpan dalam kotak kaca dalam pintu gerbang berlapis emas. Pintu mekanis ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton berlapis emas dihiasi ukiran bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan keabadian, serta bunga Teratai yang melambangkan kesucian. Pintu ini terletak pada dinding sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapis marmer hitam. Pintu ini dikenal dengan nama Gerbang Kemerdekaan yang secara mekanis akan membuka seraya memperdengarkan lagu "Padamu Negeri" diikuti kemudian oleh rekaman suara Sukarno tengah membacakan naskah proklamasi pada 17 Agustus1945. Pada sisi selatan terdapat patung Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapis emas. Pada sisi timur terdapat tulisan naskah proklamasi berhuruf perunggu, seharusnya sisi ini menampilkan bendera yang paling suci dan dimuliakan Sang Saka Merah Putih, yang aslinya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan tetapi karena kondisinya sudah semakin tua dan rapuh, bendera suci ini tidak dipamerkan. Sisi utara diding marmer hitam ini menampilkan kepulauan Nusantara berlapis emas, melambangkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.Semua itu sangat indah.

Pelataran Puncak dan Api Kemerdekaan
Pelataran setinggi 115 meter tempat pengunjung dapat menikmati panorama Jakarta dari ketinggian
Sebuah elevator (lift) pada pintu sisi selatan akan membawa pengunjung menuju pelataran puncak berukuran 11 x 11 meter di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas 11 orang sekali angkut. Pelataran puncak ini dapat menampung sekitar 50 orang, serta terdapat teropong untuk melihat panorama Jakarta lebih dekat. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Bila kondisi cuaca cerah tanpa asap kabut, di arah ke selatan terlihat dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil.
Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang nyala lampu perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini berukuran tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Lidah api ini sebagai simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan. Awalnya nyala api perunggu ini dilapisi lembaran emas seberat 35 kilogram, akan tetapi untuk menyambut perayaan setengah abad (50 tahun) kemerdekaan Indonesia pada tahun 1995, lembaran emas ini dilapis ulang sehingga mencapai berat 50 kilogram lembaran emas. Puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang bermakna agar Bangsa Indonesia senantiasa memiliki semangat yang menyala-nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam sepanjang masa. Pelataran cawan memberikan pemandangan bagi pengunjung dari ketinggian 17 meter dari permukaan tanah. Pelataran cawan dapat dicapai melalui elevator ketika turun dari pelataran puncak, atau melalui tangga mencapai dasar cawan. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 meter, sedangkan rentang tinggi antara ruang museum sejarah ke dasar cawan adalah 8 m (3 meter dibawah tanah ditambah 5 meter tangga menuju dasar cawan). Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45 x 45 meter, semuanya merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).
Sebanyak 28 kg dari 38 kg emas pada obor monas tersebut merupakan sumbangan dari Teuku Markam, seorang pengusaha Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.


Resensi Film: Black Hawk Dawn


Sutradara            Ridley Scott
Produser             Jerry Bruckheimer, Ridley Scott
Penulis                Mark Bowden, Ken Nolan


Pemeran           Josh Hartnett
Ewan McGregor
Tom Hardy
Tom Sizemore
William Fichtner
                        Eric Bana
                        Brendan Sexton
                        Sam Shepard
                       Orlando Bloom


Musik               Hans Zimmer, Denez Prigent
Sinematografi    Slawomir Idziak
Penyunting        Pietro Scalia
Distributor        Columbia Pictures
Tanggal rilis      28 Desember 2001
Durasi              144 menit
Negara             Amerika Serikat
Bahasa              Inggris, Somali
Anggaran          $92 juta

Sinopsis :
Film ini disutradarai oleh Ridley Scott yang sukses dengan film Gladiator. Kesuksesan film ini dapat dilihat pada tahun 2002 dimana film ini memenangkan 2 Oscar untuk kategori Best Editing dan Best Sound, serta memenangkan 4 penghargaan lainnya dari 29 yang dinominasikan.
Black Hawk Down adalah film yang diadaptasi dari buku “Black Hawk Down : A Story of Modern War” karangan Mark Bowden. Sedangkan buku itu sendiri ditulis berdasarkan kejadian nyata yang terjadi pada tanggal 3 Oktober 1993 dimana sekitar 150 orang pasukan elite Amerika yang terdiri dari US Army Rangers dan Delta Force memasuki kota Mogadishu (Pasar Bakhara) dengan misi untuk menangkap pemimpin perang Somalia, Mohammed Farrah Aidid.
Misi penculikan yang mulanya direncanakan hanya akan berlangsung selama 30 menit, tiba-tiba berlangsung 18 jam dan menjadi runyam akibat dua buah helikopter UH-60 “Black Hawk” jatuh tertembak RPG. Misi penculikan pun berubah menjadi misi penyelamatan awak helikopter yang jatuh itu. Belum lagi ribuan pasukan bersenjata Somalia mulai memburu dan menembaki pasukan Amerika. Tercatat 18 orang tentara Amerika tewas dan lebih dari 500 pasukan Somalia tewas dalam perang tersebut.
Seperti biasa plot ceritanya tentang heroisme tentara Amerika dengan persenjataan lengkapnya, cerita dalam film ini banyak diambil dari sudut pandang Sersan Matt Aversmann (yang diperankan oleh Josh Harnett) seorang Rangers yang memimpin sepasukan kecil dalam misi untuk mengamankan bangunan disekitar helikopter Black Hawk jatuh.
Film Black Hawk Down ini menyuguhkan kesegaran baru film peperangan. Menampilkan unsur-unsur peperangan modern dengan kompleksitas permasalahan yang juga kekinian. Jadi ikut terbayang nyata bagi yang menonton, bahwa seperti itulah kondisi peperangan zaman sekarang.


Kelebihan :
Dari sutradara Ridley Scott (Gladiator, Hannibal) dan produser terkenal Jerry Bruckheimer (Pearl Harbor, Armageddon) sebuah kisah nyata tentang keberanian, camaradarie dan kompleks realitas perang. Black Hawk Down melemparkan bintang-bintang yang luar biasa termasuk Josh Hartnett (Pearl Harbor), Ewan McGregor (Moulin Rouge!), Tom Sizemore (Saving Private Ryan), Eric Bana (Chopper), William Fichtner (The Perfect Storm), Ewen Bremner (Snatch) dan Sam Shepard (All The Pretty Horses). Pada tahun 1993, kelompok elite Amerika Rangers dan Delta Force tentara akan dikirim ke Somalia pada misi kritis untuk menangkap panglima perang kekerasan rezim yang korup telah menyebabkan kelaparan ratusan ribu warga Somalia. Jika misi berjalan dengan sangat keliru, orang-orang menemukan diri mereka kalah jumlah dan benar-benar berjuang untuk hidup mereka.
Black Hawk Down adalah film perang 2001 American co-diproduksi dan disutradarai oleh Ridley Scott dan ditulis secara luas berdasarkan buku dengan judul yang sama oleh Mark Bowden yang menggambarkan Pertempuran Mogadishu, serangan bagian integral dari Amerika Serikat ‘upaya untuk menangkap panglima perang Somali Mohamed Farrah Aidid.
Fitur film Josh Hartnett, Tom Sizemore, Ewan McGregor, Jeremy Piven, Eric Bana, Ewen Bremner, William Fichtner, Sam Shepard, Jason Isaacs, Glenn Morshower, dan Orlando Bloom. Film ini memenangkan Academy Award untuk Best Film Editing and Sound pada tahun 2001.
Black Hawk Down awalnya gagasan sutradara Simon West yang menyarankan untuk Jerry Bruckheimer bahwa ia membeli hak film untuk buku Black Hawk Down: a Story of Modern War oleh Mark Bowden dan membiarkannya (Barat) langsung, tetapi pindah ke Barat langsung Lara Croft: Tomb Raider (2001) sebagai gantinya.
Walaupun Ken Nolan yang dicantumkan sebagai penulis skenario, yang lain memberikan kontribusi ke uncredited; Sam Shepard (MGen. Garrison) menulis sebagian besar dialog; Eric Roth wrote Josh Hartnett dan Eric Bana’s penutup pidato; Zaillian Steven menulis ulang banyak dialog; Stephen Gaghan berkontribusi untuk penulisan naskah. Kebanyakan terdiri dari rekening peserta, Spec 4 Yohanes Stebbins menjadi fiksi “John Grimes”, karena Stebbins dinyatakan bersalah oleh pengadilan militer, pada tahun 1999, untuk melakukan penyerangan seksual putrinya. [1] Reporter kata Bowden Pentagon meminta perubahan. [2] Dia menulis naskah awal konsep, sebelum Bruckheimer memberikannya kepada penulis naskah; Captor POW-percakapan, antara Mike Durant pilot dan anggota milisi Firimbi, berasal dari sebuah rancangan naskah Bowden.
Verisimilitude militer, aktor Ranger mengambil crash, satu minggu kursus pengenalan Ranger di Fort Benning, Ga; Delta Force aktor mengambil komando dua minggu saja, dari tanggal 1 Special Warfare Training Group, di Ft. Bragg, NC Ron Eldard dan para aktor bermain 160 SOAR pilot helikopter kuliah oleh penerbang ditangkap Michael Durant di Fort Campbell, Ky. Angkatan Darat AS memasok material dan helikopter dari 160 Resimen Penerbangan Operasi Khusus; paling pilot (misalnya Keith Jones, yang berbicara beberapa dialog) berpartisipasi dalam pertempuran Oktober 3-4, 1993. Selain itu, satu peleton Rangers dari B-3/75 melakukan adegan Penalian cepat dan tambahan, meski tak satu pun dari mereka pernah bertugas di perang asli mereka sejak bertugas di Irak dan Afghanistan.
Sebagian besar Black Hawk Down difoto di kota-kota Rabat dan Salé di Maroko; Satuan Tugas basis Ranger urutan yang difilmkan di Kenitra. Fitur film ada aktor Somalia.
Dalam rangka menjaga film di dikelola panjang, 100 karakter utama dalam buku itu kental turun ke 39. Sejumlah besar para aktor yang bermain sebenarnya tentara Amerika dari negara yang berbeda. Daftar mencakup: Ewan McGregor (Skotlandia), Eric Bana (Australia), Kim Coates (Kanada), Ioan Gruffudd (welsh), Ewen Bremner (Skotlandia), Jason Issacs (Inggris), Zeljko Ivanek (Slovenia), Nikolaj Coster-Waldau (Denmark), Tom Hardy (Inggris), Matthew Marsden (Inggris) dan Orlando Bloom (Inggris). Ketika Orlando Bloom mengikuti audisi untuk peran, ia memberitahu direktur casting bahwa ia tahu apa rasanya mematahkan punggungnya (seperti yang ia lakukan sehingga hanya beberapa tahun sebelumnya ketika memanjat keluar pada pipa saluran air dari seorang teman flat). Karakter dalam film ini mematahkan punggungnya setelah jatuh dari helikopter.
Pada hari terakhir minggu mereka panjang orientasi Ranger Angkatan Darat di Fort Benning, para pelaku yang menggambarkan Rangers menerima surat anonim yang telah menyelinap di bawah pintu. Surat mengucapkan terima kasih atas semua kerja keras mereka, dan meminta mereka untuk “menceritakan kisah kita benar”, yang ditandatangani dengan nama-nama dari Rangers yang tewas dalam pertempuran Mogadishu.
Fitur film prajurit mengenakan helm dengan nama terakhir mereka pada mereka. Walaupun ini merupakan ketidaktelitian, Ridley Scott merasa perlu untuk memiliki helm untuk membantu para penonton untuk membedakan antara karakter karena mereka semua tampak sama seragam setelah berada.
Himpunan selalu terganggu oleh anjing-anjing liar berlari ke ditembak. Ridley Scott membuat mereka masuk karena ia menyukai otentik merasakan kehadiran mereka. Delapan anjing diadopsi oleh berbagai anggota produksi dan akhirnya dibawa kembali ke Amerika dengan mereka.
Dalam adegan di mana Black Hawks adalah satu menit mencapai Bakara jauh dari pasar, seorang Ranger dapat dilihat memegang ‘The Client’, novel karya John Grisham yang diterbitkan pada tahun 1994, sementara film ini ditetapkan pada tahun 1993.
Di Pasar Bakara, sebuah tanda jalan Maroko terungkap yang menggambarkan ‘Tidarine Street’ dalam bahasa Arab dan Perancis.
Ewen Bremner kehilangan sebagian pendengarannya karena semua tembakan. Namun ia tidak pulih.
Foto istri dan anak bahwa Ron Eldard (bermain Mike Durant) melihat situasi sekaligus menjadi harapan setelah kematian pelindungnya sebenarnya adalah Eric Bana foto istri dan anak. Departemen properti panggung lupa untuk mengambil foto istri dan anak dengan mereka, sehingga mereka bertanya Bana istri dan anak yang bepergian dengan dia jika mereka bisa menggunakan foto dari mereka dalam film.