
Warga Tionghoa identik dengan warna
merah, terbukti setiap peringatan imlek selalu didominasi dengan warna
merah. Mulai dari dekorasi rumah, lampion hingga kertas angpao semuanya
serba merah. Warna merah atau yang dalam bahasa Cina disebut dengan hong
memang sudah menjadi pilihan utama masyarakat Cina sejak dahulu kala.
Filosofi warna merah adalah menggambarkan keadaan yang terang dan ceria
dalam kehidupan masyarakat Cina itu sendiri. Warna merah juga
melambangkan kemakmuran, semangat hidup dan keberuntungan. Dalam budaya
Cina, merah berhubungan dengan lima elemen utama, arah dan empat musim.
Merah dikaitkan dengan musim panas, api dan arah Selatan.
Selain warna merah juga ada warna lain yang ikut menyemarakan imlek yaitu warna kuning keemasan. Kuning keemasan dalam bahasa Cina yaitu “Jin” yang artinya sendiri adalah uang. Karenanya, filosofi warna kuning keemasan adalah harapan agar di tahun yang baru akan mendatangkan lebih banyak rezeki lagi.
Konon pada masa dinasti Tang, kuning keemasan menjadi warna pakaian kaisar Cina sehingga menjadi warna kebesaran bagi masyarakat Cina. Awalnya masyarakat dilarang memakai baju berwarna kuning karena dianggap menyaingi sang kaisar, namun dengan berjalannya waktu pemakaian baju berwarna kuning keemasan oleh masyarakat biasa sudah tidak dipermasalahkan lagi.
Oleh karena itu warna merah dan kuning keemasan menjadi pakaian khas imlek. Kendati demikian, masyarakat Tionghoa tidak dilarang untuk menggunakan warna lain selain warna merah dan kuning. Namun, akan lebih baik jika menggunakan pakaian merah yang sebagai ungkapan keceriaan menyambut imlek. Pada saat berkumpul bersama keluarga di hari imlek, biasanya para wanita memakai baju merah, sedangkan para lelaki menggunakan baju warna kuning keemasan.
Warna merah pada kertas angpao juga menjadi khas dalam tradisi imlek. Angpao berwarna merah berisi uang yang diberikan orangtua kepada anaknya yang belum menikah. Bagi yang sudah menikah, ia justru yang wajib memberi angpao kepada orang tua atau sanak keluarga yang lebih muda.
Dahulu kala warna merah juga kental dalam pesta pernikahan masyarakat Tionghoa tradisional. Ada lilin berwarna merah yang diukir menyerupai naga pada acara perkawinan yang bertujuan untuk menghalau roh-roh jahat. Mempelai wanita pun diwajibkan menggunakan warna merah yang menandakan kebahagiaan dalam perkawinan. Selain melambangkan kebahagiaan, warna merah juga melambangkan kesetiaan. Namun, pernikahan etnis Cina di Indonesia saat ini mempelai perempuannya sudah tidak diwajibkan menggunakan pakaian warna merah. Di kebanyakan resepsi pernikahan Cina lebih condong ke nuansa budaya Barat dengan pakaian atau gaun berwarna putih. Pakaian merah justru digunakan oleh saudara perempuan yang belum menikah sebagai tanda turut berbahagia.
Selain warna merah juga ada warna lain yang ikut menyemarakan imlek yaitu warna kuning keemasan. Kuning keemasan dalam bahasa Cina yaitu “Jin” yang artinya sendiri adalah uang. Karenanya, filosofi warna kuning keemasan adalah harapan agar di tahun yang baru akan mendatangkan lebih banyak rezeki lagi.
Konon pada masa dinasti Tang, kuning keemasan menjadi warna pakaian kaisar Cina sehingga menjadi warna kebesaran bagi masyarakat Cina. Awalnya masyarakat dilarang memakai baju berwarna kuning karena dianggap menyaingi sang kaisar, namun dengan berjalannya waktu pemakaian baju berwarna kuning keemasan oleh masyarakat biasa sudah tidak dipermasalahkan lagi.
Oleh karena itu warna merah dan kuning keemasan menjadi pakaian khas imlek. Kendati demikian, masyarakat Tionghoa tidak dilarang untuk menggunakan warna lain selain warna merah dan kuning. Namun, akan lebih baik jika menggunakan pakaian merah yang sebagai ungkapan keceriaan menyambut imlek. Pada saat berkumpul bersama keluarga di hari imlek, biasanya para wanita memakai baju merah, sedangkan para lelaki menggunakan baju warna kuning keemasan.
Warna merah pada kertas angpao juga menjadi khas dalam tradisi imlek. Angpao berwarna merah berisi uang yang diberikan orangtua kepada anaknya yang belum menikah. Bagi yang sudah menikah, ia justru yang wajib memberi angpao kepada orang tua atau sanak keluarga yang lebih muda.
Dahulu kala warna merah juga kental dalam pesta pernikahan masyarakat Tionghoa tradisional. Ada lilin berwarna merah yang diukir menyerupai naga pada acara perkawinan yang bertujuan untuk menghalau roh-roh jahat. Mempelai wanita pun diwajibkan menggunakan warna merah yang menandakan kebahagiaan dalam perkawinan. Selain melambangkan kebahagiaan, warna merah juga melambangkan kesetiaan. Namun, pernikahan etnis Cina di Indonesia saat ini mempelai perempuannya sudah tidak diwajibkan menggunakan pakaian warna merah. Di kebanyakan resepsi pernikahan Cina lebih condong ke nuansa budaya Barat dengan pakaian atau gaun berwarna putih. Pakaian merah justru digunakan oleh saudara perempuan yang belum menikah sebagai tanda turut berbahagia.
Sumber
http://www.aviva.co.id/id/index.php?option=com_content&view=article&id=188:makna-warna-merah-bagi-etnis-tionghoa&catid=83&Itemid=741&lang=en

(ilustrasi/GettyImages)


(ilustrasi/GettyImages)








